Analisis Nilai-Nilai Sosial Budaya dalam Tradisi Slametan 7 Bulanan Masyarakat Bojonegoro
DOI:
https://doi.org/10.1234/prosiding.v2i1.5044Keywords:
socio-cultural values, seven-month slametan, Bojonegoro communityAbstract
abstrak— Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai sosial budaya yang terkandung dalam tradisi slametan tujuh bulanan pada masyarakat Bojonegoro. Tradisi ini merupakan bentuk kearifan lokal yang masih dilestarikan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta sebagai doa dan harapan agar ibu hamil dan janin senantiasa diberikan keselamatan dan kesehatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif untuk menggambarkan fenomena secara mendalam. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap masyarakat yang masih menjalankan tradisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi slametan tujuh bulanan mengandung berbagai nilai sosial budaya. Nilai religius tercermin dalam doa-doa yang dipanjatkan selama prosesi berlangsung. Selain itu, nilai kebersamaan dan gotong royong tampak dari partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan tradisi. Nilai simbolik juga terlihat pada perlengkapan yang digunakan, di mana setiap unsur memiliki makna tertentu. Tradisi ini berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya lokal serta mempererat hubungan sosial masyarakat. Dengan demikian, tradisi slametan tujuh bulanan tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keharmonisan sosial dan memperkuat identitas budaya masyarakat Bojonegoro. Tradisi ini juga menjadi media pewarisan nilai kepada generasi muda agar tetap menghargai budaya leluhur dan menjaga keberlanjutan tradisi di tengah perkembangan zaman modern yang terus mengalami perubahan sosial dan budaya.
Kata kunci— nilai sosial budaya, slametan tujuh bulanan, dan masyarakat Bojonegoro.
Abstract— This study aims to examine the socio-cultural values contained within the slametan tujuh bulanan tradition among the people of Bojonegoro. This tradition represents a form of local wisdom that is still preserved as an expression of gratitude to the Almighty God, as well as a means to offer prayers and hopes that pregnant women and their fetuses will always be granted safety and good health. This research adopts a qualitative approach with a descriptive type to describe the phenomenon in depth. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and documentation involving community members who still practice this tradition. The research results show that the slametan tujuh bulanan tradition embodies various socio-cultural values. Religious values are reflected in the prayers recited throughout the ceremony. Furthermore, values of togetherness and mutual cooperation are evident from the community’s participation in carrying out the tradition. Symbolic values are also observed in the equipment and items used, where every element carries a specific meaning. This tradition functions as a medium for preserving local culture and strengthening social bonds within the community. Accordingly, the slametan tujuh bulanan tradition holds not only spiritual significance but also plays an important role in maintaining social harmony and reinforcing the cultural identity of the Bojonegoro community. It also serves as a channel for passing down values to the younger generation, encouraging them to respect ancestral heritage and sustain the tradition amid modern developments and ongoing social and cultural changes.
Keywords— socio-cultural values, seven-month slametan, Bojonegoro community.
References
Amanda, A. R., Liadi, F., & Husni, M. (2023). Proses mandi tujuh bulanan tradisi masyarakat Banjar di Kelurahan Selat Utara Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas. AL-MUTSLA, 5(2), 234-247. https://doi.org/10.46870/jstain.v5i2.731.
Ernanda, M. (2022). Makna sosial tradisi mitoni dalam masyarakat Jawa di Bojonegoro. Jurnal Kebudayaan Nusantara, 8(2), 55-66. https://doi.org/10.31294/jkn.v8i2.11422.
Firtikasari, M. (2022). Makna dan Nilai Kidung Banyu Pitu pada Upacara Selamatan Memitu di Desa Kedokan Agung Kecamatan Kedokan Bunder Kabupaten Indramayu. Jurnal BELAINDIKA (Pembelajaran dan Inovasi Pendidikan), 4(1), 28-40. https://belaindika.nusaputra.ac.id/article/view/89.
Clifford Geertz. (1976). The Religion of Java. University of Chicago Press.
Kluckhohn, C. (1951). Values and Value-Orientations in the Theory of Action. Harvard University Press.
Koentjaraningrat. (2015). Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta.
Natasa, R. (2022). Kearifan Lokal dalam Tradisi Selametan di Jawa Timur. Jurnal Ilmiah Antropologi Indonesia, 6(1), 22–35. https://doi.org/10.22146/jiai.v6i1.10225.
Ningrum, K. L. S. W., & Arsana, I. W. (2022). Upacara Tujuh Bulanan (Tingkeban) Bagi Ibu Hamil Pada Masyarakat Desa Jubel Kidul Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan. PACIVIC: Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 2(1), 58-69. https://doi.org/10.36456/p.v2i1.5851.
Putri, D. A. (2025). Eksistensi Tradisi Selametan Tujuh Bulanan dalam Masyarakat Bojonegoro. Jurnal Sosial Budaya Nusantara, 11(1), 40–53. https://jurnal.uns.ac.id/jsbn/article/view/45812.
Rizkiyah, N. (2024). Fungsi Sosial Tradisi Selametan dalam Pembentukan Nilai Sosial Masyarakat Jawa. Jurnal Komunikasi Budaya, 9(2), 78–90. https://doi.org/10.36706/jkb.v9i2.15907.
Robiyanti, D. (2025). Tradisi Adat Jawa Tujuh Bulan pada Ibu Hamil (Tingkeban) Desa Citaman Jernih Susun VII Jln. Garuda Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai. Journal Scientific of Mandalika (JSM) e-ISSN 2745-5955| p-ISSN 2809-0543, 6(1), 176-186. https://doi.org/10.36312/10.36312/vol6iss1pp176-186
Sugiyono. (2020). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Young, K., & Mack, R. W. (1959). Sociology and Social Life. American Book Company.
Downloads
Published
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.